Kongres Pergunu Soroti Kata Madrasah yang Sempat Dihapus di RUU Sisdiknas

  • Bagikan
Kongres Pergunu Soroti Kata Madrasah yang Sempat Dihapus di RUU Sisdiknas

Mojokerto, NGAJI SANTRI

Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim menyampaikan rekomendasi utama yang harus dihasilkan dari Kongres ke-3 Pergunu. Yakni, terkait Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang menghapus “Madrasah.”

Hal ini disampaikan Kiai Asep dalam kegiatan Pembukaan Kongres ke-3 Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) di Pondok Pesantren Amannatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. 

“Saya siap untuk memberangkatkan semua pengurus wilayah untuk mengawal rekomendasi itu. Alhamdulillah, tadi Pak Yandri (Ketua Komisi VIII DPR RI) menyatakan telah siap untuk menerima rekomendasi dari Pergunu,” ungkap Kiai Asep, Jumat (27/5/2022).

Frasa madrasah sebelumnya telah diatur sebagai salah satu bentuk Pendidikan Dasar dalam UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 17 ayat (2). Pasal itu berbunyi “Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTS) atau bentuk lain yang sederajat.”

Sementara itu, dalam draf RUU Sisdiknas sama sekali tidak mencantumkan diksi madrasah. Draf RUU Sisdiknas hanya mengatur tentang Pendidikan Keagamaan dalam pasal 32. Namun, pasal itu sama sekali tak menyebut kata madrasah. 

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menghapus frasa madrasah dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas). Penghapusan kata madrasah tersebut menuai protes banyak pihak sehingga Kemendikbud menegaskan bahwa kata madrasah tidak akan dihapus.

Kongres Pergunu kali ini mengangkat tema Guru Mulia, Membangun Peradaban Dunia. Rangkaian kegiatan berlangsung selama empat hari, mulai hari Kamis 26 Mei 2022 hingga Ahad  29 Mei 2022 yang meliputi bazar, pengajian, sarasehan, gebyar sholawat, bedah buku, dan sidang pleno. 

Kongres Pergunu menjadi salah satu momentum untuk mengonsolidasikan kekuatan organisasi berbasis guru-guru Nahdlatul Ulama dan sekaligus menyusun strategi dalam menghadapi tantangan zaman. 

Tak hanya itu, kongres ini juga menjadi salah satu kegiatan untuk melaporkan, mengevaluasi kinerja-kinerja organisasi, dan merumuskan langkah strategis untuk kepengurusan ke depan.

Kontributor: Suci Amaliyah

Editor: Fathoni Ahmad

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.