Dunia Literasi Tak Hanya Menulis dan Membaca Tulisan Latin

  • Bagikan
Dunia Literasi Tak Hanya Menulis dan Membaca Tulisan Latin

Mojokerto, NGAJI SANTRI

Gubenur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak kader Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) untuk membangun persepsi bahwa dunia literasi tidak hanya baca tulis latin. Selanjutnya bisa memberikan rekomendasi ke pemerintah untuk mengubah pola pikir tersebut.

Menurut Khofifah, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia hingga saat ini hanya menganggap orang yang bisa literasi adalah individu yang bisa menulis dan membaca tulisan latin. Dalam bahasa lain yaitu metode menulis dari kanan. 

Sementara itu, menulis dari kiri seperti tulisan pegon yang masyhur di pesantren dan Arab tidak dianggap tuntas literasi. Kegelisahan ini disampaikannya di Kongres ke-3 Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

“Ada suasana yang harus kita bangun, untuk menciptakan perspektif bagaimana seharusnya melihat standar pendidikan dan tingkat literasi suatu negara. Yang mana tingkat standar Internasional masih menggunakan huruf latin,” jelasnya, Jumat (27/5/2022).

Khofifah mengatakan jika dirinya sudah menyampaikan keluhannya tersebut ke BPS. Hanya saja lembaga negara tersebut tetap menggunakan standar yang melek literasi adalah bisa baca tulis latin. Hal tersebut sesuai dengan standar internasional.

“Apa iya masih relevan kategorisasi bahwa manusia menulis dari kanan tidak anggap melek huruf. Ini standar internasional. Menulis dan membaca huruf latin,” imbuhnya.

Dikatakan, sampai sekarang Khofifah masih terus melakukan diskusi dengan lembaga pustaka negara agara membaca dari kanan dianggap tuntas literasi. BPS harus didorong untuk menganggap bahwa tuntas literasi bukan hanya ketika bisa membaca dan menulis dari kanan.

Khofifah menegaskan, beberapa waktu lalu Provinsi Jawa Timur mendapat apresiasi sebagai pemilik perpustakaan terbanyak yang terregistrasi di Indonesia. Saat menerima penghargaan ia menyampaikan, jika Jawa Timur mendapatkan penghargaan perpustakaan terbanyak, seharusnya yang membaca juga terbanyak. 

Karena fasilitasnya ada. Kenyataannya tidak begitu, karena banyak orang Jawa Timur dan perpustakaannya tidak berbahasa latin. 

Jawa Timur memiliki kultur Nahdlatul Ulama (NU) yang kental. Dalam perspektif kultur NU, nulis itu dari kanan. Banyak tokoh yang menulis dari kanan. Karena menulis dari kiri ajaran penjajah. Sempat ada pandangan seperti itu. Sehingga warga NU sulit masuk ke perguruan tinggi negeri.

“Cita-cita besar harus diikuti oleh sistem. Mendirikan kuliah tingkat doktoral tidak mudah dan tidak murah. Kita harus melakukan lakukan lompatan teknologi, tidak cukup hanya percepatan intelektual,” tandasnya.

Pewarta: Syarif Abdurrahman

Editor: Fathoni Ahmad

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.