Catatan Anak Muda Muhammadiyah: Buya Syafii adalah Kesederhanaan

  • Bagikan
Catatan Anak Muda Muhammadiyah: Buya Syafii adalah Kesederhanaan

Oleh: Azaki Khoirudin

Kamis sore, 26 Mei 2022, saya sowan ke rumah Pak Abdul Fattah Santoso di Solo. Ketua Divisi Kajian Kemasyarakatan dan Keluarga Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menyampaikan pesan kepada saya, “Jika sempat bertemu Buya Syafii tolong sampaikan kabar gembira kalau saya sudah profesor.” Sudah cukup lama Buya menyampaikan agar Pak Fattah segera mengurus gelar guru besarnya.

 

Jumat pagi sekitar pukul 09.00, saya ngobrol santai bersama dua kolega dosen muda seangkatan di Pondok Shobron. Di sela-sela menikmati obrolan, pukul 10.20 ada kabar dari Pak Haedar di Grup WA Islam Berkemajuan, “Buya Berpulang”. Seketika kami terdiam, obrolan berakhir dan saya langsung memutuskan berangkat ke Jogja. Alhamdulillah saya masih mendapat kesempatan menshalatkan jenazah di gelombang terahir, berjamaah bersama Presiden Jokowi dan Pak Haedar Nashir.

 

Sosok Mudah Dijangkau
Buya Syafii adalah tokoh yang mudah dijangkau semua kalangan. Tak terkecuali anak-anak muda. Pertama kali saya bertemu Buya ketika masih awal menjadi Sekjend PP IPM 2014-2016. Saat itu, saya sedang keliling Jogja bersama teman-teman PP IPM untuk mencari makan. Tiba-tiba terpikir untuk sowan ke Buya. Seketika itu saya SMS, sekaligus minta izin sowan. Kami diterima dan dipersilakan ke rumahya. 

 

Sampai di rumah, Buya begitu antusias menyambut kami. Beliau meminta kami memperkenalkan diri satu persatu. Semua dikasih kesempatan untuk berbicara.

 

Tidak seperti orang tua pada umumnya yang ingin didengar cerita-cerita masa lalunya. Atau kebiasaan memberikan nasihat pada yang lebih muda. Buya Syafii berbeda. Ia justru ingin mendengar kesaksian dari anak-anak muda yang datang ke beliau. Dari situ saya cukup terkesan, betapa egaliter dan rendah hati Buya Syafii ini.

 

Kami diberi motivasi untuk segera menyelesaikan kuliah, dan mengakses pendidikan setinggi mungkin. “Jangan seperti saya,” katanya. Maksud Buya untuk menunjukkan betapa telatnya beliau mendapatkan akses pengetahuan dan pendidikan. Tentu ini berbeda dengan kondisi saat ini.

 

Buya sangat mudah dijangkau. Untuk menemuinya cukup datang saat shalat magrib di masjid dekat rumahnya. Beliau biasanya tidak pulang, menunggu sampai isya. Di situlah biasanya anak-anak muda bisa berjumpa dengan Buya. Begitulah Buya yang bisa langsung ditemui, tanpa asisten, tanpa janjian, padahal beliau adalah tokoh besar.

 

Sederhana dan Tak Ingin Merepotkan

Waktu saya bergiat di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) UMS, dua kali saya mengundang beliau: Pertama, ketika kami menggelar bedah buku. Menariknya, Buya Syafii berangkat ke Solo naik kereta Pramek sendirian, padahal saat itu usianya lebih dari 80 tahun. Beliau juga tidak mau dijemput hingga sampai lokasi acara. 

 

Kedua, saya mengundang kegiatan wokshop di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta. Sama seperti saat di Solo, beliau menolak untuk dijemput. Saya menyaksikan ia nyetir mobil, tanpa ada orang yang menemani. Keluar mobil tidak mau dibawakan barangnya. 

 

Dari situ Buya membuat kami malu. Terkadang kami yang masih muda ini minta dijemput, merepotkan orang lain, dan ingin semuanya serba cepat. Berbeda dengan Buya yang serba mandiri.

 

Sebenarnya saya tidak terlalu dekat dengan Buya. Saya bukan orang dekat Buya. Saya hanya mengenal Buya dari forum ke forum, dan tulisan-tulisan beliau. Belakangan saya bisa makan bersama Buya, shalat berjamaah di kantor Suara Muhammadiyah, atau satu mobil bersama Buya lantaran diajak Mas Erik Tauvani. Dari Mas Erik ini, saya banyak menerima riwayat-riwayat yang mencerminkan kesederhanaan Buya Syafii. Buya adalah cermin dari seorang sufi hari ini. Buya adalah sosok hamba Allah yang taat beribadah, sholat tepat waktu, dan menjaga shalat berjamaah. Banyak saksinya.

 

Buya mengerjakan pekerjaan rumah sendiri seperti mencuci, nyetrika, dan menjahid pakaiannya yang robek. Meskipun usia lanjut, Buya sampai akhir hidupnya tidak memiliki seorang pembantu rumah tangga. 

Membesarkan Muhammadiyah
Buya adalah sosok yang tidak membesarkan dirinya, melainkan untuk Muhammadiyah. Sampai akhir hayat, Buya masih rapat rutin redaktur Majalah Suara Muhammadiyah. Jadi, beliau tidak hanya numpang nama di SM, tapi benar-benar bekerja di SM. Selain itu, Buya adalah ketua proyek pembangunan Madrasah Muallimin Muhammadiyah yang baru. Di usia yang tak muda, beliau masih bekerja untuk membesarkan Muhammadiyah secara kelembagaan. 

 

Buya sangat senang dengan pertumbuhan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di cabang dan ranting. Jika ada AUM baru, beliau mencari nomor pimpinan ranting atau cabang untuk diwawancarai sendiri, kemudian ditulis menjadi artikel di Republika.

 

Demikianlah, sedikit sosok Buya yang saya tahu. Yang laku hidupnya membuat malu dan menampar kami, terutama bagi generasi hedonis, konsumtif, lemah, dan manja. 

 

Bagi saya, Buya Syafii adalah sosok yang fasih dalam perbuatan dan tulisan daripada ucapan. Bagi orang yang membencinya mungkin karena tidak mengenalnya. Atau, kalaupun telah menganal tapi tetap membenci, pasti ada yang salah dalam hatinya. 

 

Selamat jalan Buya Syafii. Kami sedih, engkau bahagia: menjadi jiwa yang tenang kembali ke Sang Khalik dengan segudang kemuliaan akhlak.
 

Penulis adalah Founder IBTimes.ID

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.