Para Pakar Bicara Soal Infeksi Covid-19 di Australia yang Lebih Tinggi dari Laporan Resmi

  • Bagikan
Namibia Cabut Kewajiban Masker dan Tes PCR Pendatang Asing

NGAJISANTRI.MY.ID–Jumlah kasus Covid-19 di Australia kemungkinan jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan resmi saat ini. Para ahli epidemiologi menyerukan pengambilan sampel secara acak untuk menemukan tingkat penularan coronavirus sebenarnya di masyarakat.

Pada puncak gelombang Omicron pertama awal tahun ini, ada perkiraan bahwa kasus infeksi 10 kali lebih tinggi dari yang dilaporkan secara resmi karena waktu tunggu hasil tes PCR yang lama dan kurangnya pasokan alat tes cepat antigen secara nasional.

Antara 1 dan 30 Maret, jumlah kasus Covid-19 harian di Australia meningkat lebih dari dua kali lipat dari 25.017 menjadi 61.331. New South Wales mencatat jumlah tertinggi pada hari Rabu (30/3/2022) dengan 25.235 kasus, sementara di Victoria ada 11.749 dan 10.626 di Queensland.

“Jelas ada jauh lebih banyak kasus daripada yang dilaporkan secara resmi. Ini terutama karena sekitar 30% orang yang terinfeksi Omicron tidak memiliki gejala dan, oleh karena itu, tidak mungkin untuk dites,” kata Adrian Esterman, seorang profesor biostatistik di University of South Australia, seperti dilansir The Guardian Rabu (30/3/2022).

“Pemerintah negara bagian mengamanatkan bahwa setiap tes cepat positif harus dilaporkan. Namun, jika orang hanya membeli alat [tes cepat] dari apotek dan hasilnya positif, bagaimana pemerintah tahu bahwa mereka telah melaporkannya? Mereka [pemerintah] tidak akan tahu, itu jawabannya.”

kata Esterman menambahkan QR code ke alat tes cepat, seperti yang dilakukan di Inggris, akan memudahkan orang untuk melaporkan hasil tes mereka.

“Inggris punya solusi yang sangat sederhana. Setiap tes cepat antigen memiliki kode QR, dan ketika Anda selesai melakukannya, Anda memindainya, dan Anda akan ditanya apakah tes Anda positif, negatif atau batal. Hanya butuh dua detik, jadi sayang sekali kita tidak melakukan hal yang sama di sini.”

Dr Michael Lydeamore, seorang pemodel penyakit menular Monash University, mengatakan kelemahan yang paling dikenal dari tes cepat antigen (RAT) adalah bahwa tes itu kurang efektif dalam mendeteksi hasil positif dibandingkan tes PCR. 

Kedua pakar tersebut meminta pemerintah di seluruh Australia untuk melakukan pengujian Covid secara acak, seperti yang dilakukan di Inggris.

“Apa yang akan diberitahukan oleh survei itu kepada kita adalah berapa banyak orang yang telah terpapar Covid, dan saya pikir itu memberikan landasan yang sangat baik untuk mengukur hal-hal lain,” kata Lydeamore.

The Kirby Institute di University of NSW and the National Centre for Immunisation Research and Surveillance telah meluncurkan survei prevalensi Covid untuk menentukan berapa banyak orang yang tertular varian Omicron. Dikenal sebagai serosurvei, para peneliti memeriksa hasil tes antibodi yang diambil enam minggu setelah puncak gelombang Omicron pada Januari.

Prof John Kaldor, ahli epidemiologi Kirby Institute yang merupakan bagian dari tim penelitian itu, mengatakan selalu ada keraguan tentang jumlah kasus Covid-19 sebenarnya di seluruh Australia.

Sementara survei yang dilakukan selama tahun pertama pandemi pada tahun 2020 mendapati kurang dari 1% populasi Australia terpapar Covid, Kaldor memperkirakan tingkat paparan akan jauh lebih tinggi saat ini.

Lonjakan kasus Covid sekarang ini sebagian didorong oleh penularan di sekolah-sekolah.

Correna Haythorpe, presiden Australian Education Union, mengatakan ada kekurangan dalam transparansi tentang penularan Covid di kalangan guru dan siswa.

“Sangat sulit untuk memahami sejauh mana masalah tanpa ada data yang tersedia,” kata Haythorpe.

Esterman mengatakan penghapusan langkah pencegahan penularan coronavirus di masyarakat (seperti mengenakan masker dan jaga jarak) berarti jumlah kasus akan tetap konstan, meskipun sebagian besar negara bagian memperkirakan akan mencapai puncak penularan varian BA.2 pada pertengahan April.

“Jaga jarak sebisa mungkin, bertemulah di tempat yang berventilasi baik, gunakan masker apabila Anda tidak mungkin menjaga jarak. Meskipun sudah tidak ada hukum yang mengatur, bukan berarti Anda tidak bisa melakukan upaya-upaya pencegahan itu,” kata Lydeamore mengimbau masyarakat.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.