Hikmah Spiritual dan Moral Puasa

  • Bagikan
Saat Khatib Berdoa, Perlukah Makmum Mengucap Aamiin?

NGAJISANTRI.MY.ID, YOGYAKARTA—Manusia memiliki kecenderungan kuat untuk melihat kepuasannya dalam pemenuhan tuntutan keinginan bersifat jasmani dan sensual. Hal ini diisyaratkan dalam QS. Ali Imran ayat 14 bahwa manusia cenderung menyukai hal-hal yang bersifat syahwat. Puasa hendak mengajarkan bahwa a bukan hanya kenyataan jasmani dan sensual belaka, melainkan juga merupakan kearifan dalam menangkap kedalaman spiritual yang memberikan makna bagi kehidupan itu sendiri.

Puasa merupakan momen liberasi, membebaskan manusia dari kungkungan materi untuk memberi ruang kepada hati guna secara lebih luas dan lebih mendalam menangkap dimensi spiritual dalam hubungannya dengan Allah, sesamanya, dan alam sekitar. Hal ini penting agar menyadari bahwa p kehadiran Ilahi yang membuatnya menjadi insan yang bertakwa. Allah berfirman, “… diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

Dengan demikian puasa tidak hanya merupakan sekedar kegiatan fisik berupa menahan lapar, haus, dorongan seksual dan keinginan fisik lainnya. Puasa adalah suatu proses penyadaran kepada manusia agar dalam melihat hidup dan kehidupan tidak hanya dengan ukuran dan pandangan yang serba lahir, tetapi juga ada dimensi batin yang apabila diolah dengan sungguh-sungguh akan memberikan rasa hidup yang lebih lengkap, memiliki berkah dan rasa kelimpahan rahmat Ilahi.

Puasa merupakan wahana pendidikan diri, pembentukan karakter, penguatan kemauan, peneguhan disiplin, dan penanaman nilai-nilai positif yang membebaskan seseorang dari sifat-sifat destruktif dirinya melalui pengendalian nafsu dan syahwat. “Puasa adalah suatu perisai yang melindungi dirimu seperti perisai seseorang kamu yang melindungi dirinya dalam perang (HR an-Nasa’i, Ibn Majah, dan Ahmad).

Puasa juga memiliki dimensi sosial karena puasa adalah penyadaran dan pengingatan bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup menyendiri. Kita tergantung kepada dukungan dan bantuan orang lain agar kita dapat memenuhi kebutuhan diri kita sendiri. Dalam bulan Ramadhan kita dianjurkan banyak bersedekah dan memberi makan orang miskin. Tentu ini bukan sekedar suatu rutinitas ritualistik belaka, tetapi adalah suatu simbolisasi dari penegasan komitmen kita bahwa sebagai makhluk sosial yang pemenuhan kebutuhannya tergantung kepada orang lain kita harus memiliki kepedulian terhadap sesama yang tercermin dalam saling memberi, saling membantu dan menciptakan kebersamaan.

Lain daripada itu, puasa juga merupakan simbolisasi dari cara hidup yang mampu mengendalikan pola makan. Makan dan tidak makan mendapat perhatian yang serius dalam ajaran Islam. Dalam pandangan Islam makan adalah keharusan alamiah yang tidak mungkin dihindari. Bahkan pada kondisi tertentu orang wajib makan, bahkan yang diharamkan demi mempertahankan kelangsungan hidup. Namun pada sisi lain makan tidak boleh berlebihan karena akan membawa mafsadah kepada manusia sendiri (QS. Al A’raf: 31).

Adalah bertentangan dengan makna puasa apabila seorang berpuasa meningkatkan konsumsinya lebih dari hari-hari biasa. Puasa seakan balas dendam selera yang tertahan di siang hari untuk dipuaskan sepuas puasnya di petang hari. Kebiasaan seperti itu mari ditinjau dan dievaluasi kembali agar puasa kita mencapai sasaran. 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.