Gus Nadir: Meneliti dan Berkarya, Bagian dari Tauhid

  • Bagikan
Gus Nadir: Meneliti dan Berkarya, Bagian dari Tauhid

Jakarta, NGAJI SANTRI
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia dan New Zealand (ANZ) periode 2019-2021, Prof Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) menerangkan, terus melakukan penelitian dan berkarya merupakan salah satu wujud bertauhid kepada Allah swt.

“Penelitian dan terus berkarya itu bagian dari tauhid,” terang Gus Nadir dalam sambutannya secara daring pada Haul ke-21 Profesor KH Ibrahim Hosen di Masjid Raudhatul Qur’an Pesantren Takhasus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Ahad (27/3/2022).

Untuk itu, lanjut Gus Nadir, orang yang kemudian berhenti melakukan penelitian dan berkarya seolah-olah orang tersebut tidak memanfaatkan kemampuan yang sudah Allah swt berikan.

Selain itu, hal tersebut juga mencerminkan sikap tidak percaya dengan apa yang sudah Allah siapkan untuk hambanya. Hal tersebut mengingatkannya pada wasiat yang diberikan oleh sang ayah, KH Ibrahim Hosen pada masa sakitnya, sebelum ia tutup usia.

Gus Nadir berkisah bahwa KH Ibrahim Hosen berpesan kepadanya kelak suatu saat ada majelis taklim akbar, hendaknya Gus Nadir menggantikan posisi sang ayah untuk memberikan taushiah kepada jemaah.

“Abah mendiktekan kepada saya materi yang harus disampaikan. Tentu saya dengan kakak (sama-sama sedang berjaga) saling melihat. Karena, beliau di rumah sakit dan tidak ada undangan majelis ta’lim. Tapi, itulah isyarat dari beliau dan ia memberikan materi ceramah atau pesan terakhir yang luar biasa,” paparnya.

Pesan tersebut berwujud dalam analogi seorang ustadz yang kelak akan berceramah dan melalui kesulitan untuk menyeberangi jembatan lantaran jembatan penyeberangan terputus sebab banjir.

“Apabila ustadz tersebut pasrah dan lantas pulang, maka ia akan pulang dan membiarkan para jemaah menunggu ketidakhadirannya,”terang Gus Nadir di channel YouTube Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

Sementara apabila ustadz tersebut melakukan perenungan, penelitian, serta pengkajian sebagai bentuk kepercayaan terhadap Allah yang mana hal itu merupakan bagian dari tauhid.

“Maka, ustadz itu akan menanamkan sikap optimis bahwa Allah telah menyiapkan beragam sarana untuknya agar tetap bisa menyeberang ke tempat jemaah telah menunggu,” papar pria kelahiran 8 Desember 1973 itu.

“Di situ saya merenung bahwa ternyata hasil-hasil kajian beliau (KH Ibrahim Hosen) selama berpuluh-puluh tahun sebagai seorang profesor, kiai, itu adalah bagian dari aplikasi tauhid beliau,” ungkap Gus Nadir.

Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Musthofa Asrori

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.