Tiga Pijakan Spiritual Guru Besar Kalangan Warga-Intelektual Muhammadiyah

  • Bagikan
Tiga Pijakan Spiritual Guru Besar Kalangan Warga-Intelektual Muhammadiyah

NGAJISANTRI.MY.ID, YOGYAKARTA—Penyandangan Guru Besar, terlebih di kalangan warga-intelektual Muhammadiyah tidak boleh kosong atau hampa makna. Untuk mengisi makna tersebut, sekurangnya terdapat tiga pijakan spiritual yang perlu dipegang oleh guru besar, lebih-lebih dari kalangan warga-intelektual Muhammadiyah.

Sebagai guru besar, tidak boleh hanya mahir di depan kelas, tapi juga harus memberi warna pada perbaikan kehidupan masyarakat luas. Karena sebagai guru besar merupakan amanah untuk menjadi Sang Pencerah, menularkan akal sehat, melestarikan akal sehat, menjaga kejujuran dan integritas.

“Karena kita ini tembok terakhir, kemudian saat kita berdiri di depan kelas pikiran hadir menembus batas,” ucap Prof. Heru Kurnianto, Ketua Senat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada, Sabtu (26/3) di acara Orasi Ilmiah Guru Besar Prof. Gunawan Budidyanto, Rektor UMY.

Keberadaan guru besar terlebih di kalangan warga-intelektual Muhammadiyah seyogyanya dibarengi dengan karya melahirkan pemimpin muda yang cerdas – mencerdaskan bangsa dan umat.

Serta karya akademiknya baik berupa riset maupun karya tulisan akademik lain, dibarengi dengan etika, martabat, intelektualitas dan kemaslahatan. Bagi guru besar dari kalangan warga-intelektual Muhammadiyah, terlebih yang lahir di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah – ‘Aisyiyah (PTMA) maka aspek spiritualitas tidak boleh dikesampingkan, Prof. Heru menjelaskan, bahwa Guru Besar dari kalangan warga-intelektual Muhammadiyah dalam hal ini memiliki tiga pijakan spiritual penting.

“Pertama adalah Surat Az Zariyat ayat 56, maka sebetulnya para guru besar menjadi orang yang mengingatkan why do we exist ? alasan keberadaan kita ini, mission nya apa ?, yakni diciptakannya jin dan manusia tidak terkecuali untuk ibadah,” ungkapnya.

Sementara itu, pijakan yang kedua berasal dari hadist Rasulullah yakni tentang kebermanfaatan manusia. Di mana Rasulullah menyebutkan bahwa, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Menurut Prof. Heru pijakan ini merupakan indeks kinerja kehidupan, selain indeks-indeks lain yang sudah dilembagakan di Muhammadiyah. Pijakan spiritualitas yang ketiga adalah etos atau semangat bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini.

Menurutnya, ucapan Rasulullah ini merupakan filosofi luar biasa yang bahkan diimplementasikan pada sistem manajemen modern yakni continues improvement.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.