Profil KH Maimoen Zubair, Kisah Belajar Sejak di Sarang, Lirboyo, dan Makkah, Sampai Disebut ‘Wali Enom’

  • Bagikan

 KH Maimoen Zubair Sarang Rembang adalah sosok ulama panutan yang diakui publik. Mbah Moen, sapaan akrabnya, selalu hadir memberikan kesejukan dan pencerahan kepada umat sepanjang hayatnya. 

Mbah Moen dekat dengan semua kalangan. Mulai pejabat elite/pusat sampai warga biasa di pelosok kampung. Mbah Moen sangat rajin mengisi pengajian di pelosok kampung yang bahkan sulit dijangkau. 

Walaupun wafat dan dimakamkan di Ma’la Makkah, 6 Agustus 2019, tapi sosok Mbah Moen terus hidup bersamaan dengan ruh ilmu yang terus dihidupkan para putra dan santri-santrinya. 

Sebagaimana dikutip BeritaBantul.com dari facebook Amirul Ulum, dijelaskan kisah perjalanan ilmiah Mbah Moen sejak masih belia sampai diakui sebagai ulama besar. Jalur ilmiah Mbah Moen dimulai sejak di Sarang, kemudian menuju Lirboyo, lalu ke Makkah-Madinah, dan kembali lagi ke Nusantara.

Amirul Ulum menegaskan bahwa Mbah Moen dilahirkan di Sarang pada Jum’at Kliwon, 10 Muharam 1347 H / 23 Oktober 1928 M. Ia anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Ibu Nyai Mahmudah. Saudara-saudaranya yaitu, Makmur, Mardiyah, Hasyim, dan Zahro. Semua anak pasangan Kiai Zubair dan Nyai Mahmudah meninggal dunia kecuali Mbah Moen.

“Hidup di lingkungan pesantren mengharuskan Mbah Moen untuk mengaji. Meskipun ayahnya, Kiai Zubair bukanlah pengasuh pesantren, namun ia aktif mengajar di pesantren milik mertuanya, Kiai Ahmad ibn Syuaib,” tegas Ulum yang juga alumni Pesantren Al-Anwar Sarang.

Kepada sang ayah, lanjut Ulum, Mbah Moen mengaji berbagai disiplin ilmu agama seperti al-Jurûmiyah, al-Imrîthi, al-Fiyah, Fathal Qarîb, Fathal Wahhab, Fathal Mu’în, Jauharatu al-Tauhîd, Rahabiyah, dan Sullam al-Munawrâq.

“Untuk masalah al-Qur’an-nya, Mbah Moen belajar kepada ibunya, Nyai Mahmudah. Selain kepada kedua orang tuanya, Mbah Moen belajar kepada ulama-ulama Sarang seperti Kiai Syuaib ibn Abdurrozak, Kiai Ahmad ibn Syuaib, dan Kiai Imam Khalil,” tegas Ulum.

Cara Mendidik Kiai Zubair untuk Putranya

Mbah Zubair punya cara khusus dalam mendidik Mbah Moen di masa kecil. Mbah Moen bukan saja diajari ilmu agama, tapi juga ilmu umum. Ini yang tak banyak dipahami publik, sehingga Mbah Moen akhirnya menjadi pribadi yang mampu mencerna persoalan kebangsaan dan kenegaraan.

Kiai Zubair tidak hanya mengajarkan ilmu agama, akan tetapi, ilmu umum pun juga diajarkan. Terlebih ilmu-ilmu yang ada kaitannya dengan nasioanlisme dan patriotisme,” tegas Ulum yang juga penulis biografi Mbah Moen.

Alasan memberikan ilmu umum itu, lanjut Ulum, disebabkan saat itu Indonesia sedang dalam kondisi dijajah Belanda, Jepang , dan dilanjutkan dengan kembalinya Belanda yang membonceng NICA (Netherland Indies Civil Administration).

“Ketika umur Mbah Moen 4 tahun, Kiai Zubair mengajarkan menulis huruf latin, huruf hanocoroko, dan cara berbahasa Melayu. Saat umurnya 15 tahun, Kiai Zubair menyuruh Mbah Moen mempelajari koran, majalah, buku-buku penyemangat, seperti majalah “Penyebar Semangat”, buku Imam Supriadi, dan buku-buku terbitan Budi Pustaka Jakarta,” tegas Ulum. 

Lirboyo: Bukan hanya Ngaji, Tapi Juga Angkat Senjata

Pada usia 17 tahun, Kiai Zubair mengirim Mbah Moen untuk mengaji di Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Abdul Karim, atau biasa disebut Mbah Manab. Ini terjadi pada tahun 1945. 

“Mbah Manab ini dikenal dengan kepakarannya dalam masalah Gramatika Arab. Kepadanya, Mbah Moen mematangkan kajian Nahwu-Sharafnya seperti al-Jurûmiyah, al-Imrithi, dan al-Fiyah. Selain belajar kepada Mbah Manab, selama di Pesantren LirboyoMbah Moen juga belajar kepada Kiai Mahrus Aly, Kiai Marzuki, dan Kiai Ma’ruf Kedunglo,” tegas Ulum.

Saat di Lirboyo ini, Mbah Moen dikenal sosok santri yang cerdas, alim. Para santri dan kiai mengakui kealiman sosok Maimoen muda. 

“Dari kecerdasannya ini, maka tidak mengherankan jika ia menjadi salah satu santri andalan Mbah Manab dari tiga santrinya, yaitu Mbah MoenKiai Abdul Wahab Sulam, dan Gus Ali Bakar,” kata Ulum.

Kondisi tahun 1945 bukanlah kondisi yang aman. Indonesia sedang berada dalam posisi sulit, karena penjajah kembali datang setelah Proklamasi Kemerdekan 17 Agustus 1945. Mbah Hasyim Asy’ari dan para ulama mengeluarkan resolusi jihad untuk perang melawan penjajah. 

Di tengah kondisi itu, Maimoen muda juga ikut angkat senjata.

“Bersama dengan Kiai Mahrus Ali dan para kiai lainnya yang dikomando dalam Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, Mbah Moen ikut berjuang melawan penjajah yang ingin kembali merebut kemerdekaan Indonesia dengan misi Agreesi Militer Belanda I (21 Juli – 5 Agustus 1947) dan Agreesi Militer Belanda II (19–20 Desember 1948),” tegas Ulum.

Belajar di Masjidil Haram Makkah

Tahun 1949, kondisi Indonesia mulai stabil. Karena itu, Mbah Moen meminta izin Mbah Manab untuk melanjutkan ngaji di Makkah. 

“Mbah Manab merestui keinginan Mbah Moen tersebut. Maka, berangkatlah ia menuju Haramain bersama dengan Kiai Abdurrahim ibn Ahmad dengan biaya dari kakeknya, Kiai Ahmad ibn Syuaib,” tegas Ulum.

Selama di Haramain, lanjut Ulum, Mbah Moen belajar di Masjidil Haram dan Madrasah Dar al-Ulum yang merupakan madarasah rintisan Ulama Jawiyyin (ulama Nusantara di Haramain).

Di antara gurunya selama belajar di Haramain adalah, Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi, Syaikh Abdul Qodir ibn Abdul Muthalib al-Mindili, Syaikh Abdullah bin Nuh al-Malaysiai, Syaikh Hasan Al-Masyath, Syaikh Yasin al-Fadani, dan Syaikh Zakaria Bela,” kata Ulum.

Kepada ulama-ulama Haramain ini, lanjut Ulum, Mbah Moen mempelajari berbagai disiplin ilmu agama dengan penuh ketekunan sehingga menjadi ta’ammuq (mendalam).

“Karena tertarik dengan kealimannya, ada salah satu ulama Haramain yang ingin menjadikan Mbah Moen sebagai menantunya. Namun, tawaran tersebut tidak diiyakan olehnya. Mbah Moen lebih suka kembali ke Indonesia dan mengamalkan ilmunya di tanah kelahirannya,” kata Ulum.

1950: Fase Baru

Mbah Moen tidak lama di Makkah. Tahun 1950, Mbah Moen memasuki fase baru, yakni pulang ke Nusantara. Walaupun sudah dikenal luas kealimannya, Mbah Moen tetap mengaji lagi kepada para ulama Nusantara saat itu. 

Para ulama itu disebutkan Amirul Ulum sebagaimana berikut ini.

1. Kiai Baidlowi bin Abdul Aziz (Lasem, Rembang).

2. Kiai Bisri Mustofa (Leteh, Rembang).

3. Kiai Abdul Wahab bin Hasbullah (Tambak Beras, Jombang).

4. Kiai Abdul Wahib bin K Abdul Wahab (mantan Menteri Agama).

5. Kiai Ma’sum Ahmad (Lasem, Rembang).

6. Kiai Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang).

7. Habib Abdullah bin Abdul Qodir (Malang).

8. Habib Ali bin Ahmad Al-Athas, Kiai Thohir (pengasuh yayasan At-Thohiriyyah Jakarta).

9. Kiai Ali bin Ma’sum (Jogjakarta).

10. Kiai Abdul Hamid (Pasuruan).

11. Kiai Muslih bin Abdur Rahman (Mranggen, Demak).

12. Kiai Abbas (Buntet).

13. Kiai Khudori (Tegalrejo).

14. Kiai Asnawi (Kudus).

15. Kiai Ihsan Jampes (Kediri).

16. Kiai Abu Fadhol (Senori, Tuban).

17. Kiai Abu Khoir (Jatirogo, Tuban).

Mbah Hamid Pasuruan: Kyai Maimoen ‘Wali Enom’

Sejak kembali ke Indonesia tahun 1950, Mbah Moen yang sudah dikenal luas kealimannya masih terus mengaji kepada ulama lain sebagaimana di atas. Karena itu, sosok Mbah Moen muda menjadi perbincangan para kiai saat itu. 

Sebagaimana ditegaskan Agus Ali Dzawafi, dosen UIN Maulana Hasanuddin Banten, dari laman terakota.id, dikisahkan sebuah hal yang sangat istimewa pada sosok Mbah Moen muda.

Pada suatu kesempatan, kepada seorang tamu yang punya problem khusus, Mbah Hamid Pasuruan berkata, “Lapo sampean mrene…!? Kono… Nang Kyai Maimoen, Wali Enom!” (Kenapa kamu kesini…!? Sana… Ke Kyai Maimoen, Wali Muda!!!”).

Saat para ulama kenamaan berkumpul di rumah Mbah Maksum Lasem, Mbah Hamid Pasuruan juga memberikan pujian sangat spesial kepada Mbah Moen.

Gus Moen seorang yang dzakiyyun, alimun, salihun, mufassirun, muhadditsun, faqihun, sufiyyun, waliyyun min awliya’illah.”

Kesaksian Mbah Hamid Pasuruan ini menjadi rujukan publik atas sosok Mbah Moen sebagai seorang kekasih Allah. Karena yang tahu wali ya hanya wali

Demikian profil sosok Mbah Moen sejak masa kecil sampai masa mudanya yang begitu cemerlang. Walaupun begitu, Mbah Moen tetap sosok yang rendah hati dan sangat menghormati siapa saja, terlebih kepada para ulama dan habaib. 

Rasa sayang Mbah Moen kepada umat juga tak ada yang membantah. Sosok istimewa, luas ilmu agama dan terus menggelorakan rasa cinta kepada bangsa Indonesia. Demikian, semoga bermanfaat.*** 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.