Pengusaha China Rasakan Karomah Syaikhona Kholil, Kata Cak Nun: Tidak Percaya, Ayo Tanyakan Sendiri

  • Bagikan

 Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura punya posisi dan peran sentral dalam sejarah Islam di Indonesia abad ke-20.

Ia adalah gurunya para ulama besar di Nusantara. Untuk menyebut misalnya, Kiai Hasyim Asy’ari, yang kemudian hari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).

Selain Kiai Hasyim Asy’ari, masih banyak ulama-ulama besar lainnya yang nyantri dengan Syaikhona Kholil. Para santri selalu punya kesan khusus atas karomah sang kiai.

Tidak hanya ulama dari Indonesia, para saudagar dan pengusaha kaya raya zaman itu pun sowan ke kediaman Syaikhona Kholil di Madura.

Cak Nun mengisahkan dua pengusaha dari China sowan ke Syaikhona Kholil. Dikutip beritabantu.com dari Youtube NGAJI BARENG, Cak Nun menjelaskan, Syaikhona Kholil itu gurunya semua orang.

Syaikhona Kholil itu gurunya semua orang. Imam Lapeo dari Mandar yang juga Waliullah, saya dekat dengan beliau, itu berguru ke sini (Syaikhona Kholil), dan banyak yang berguru ke sini,” katanya.

Menurutnya, tidak hanya orang Islam. Syaikhona Kholil itu, ungkap Cak Nun, penuh kasih sayang dan mendalam ilmunya tentang kehidupan.

“Ada 2 pengusaha China yang datang kepada beliau. Syaikh saya dikasih apa? Syaikhona menjawab kamu jualan rokok saja,” ungkap Cak Nun.

Tapi syaratnya harus tembakau Madura dan pasarnya harus NU, kata Syaikhona Kholil.

“Wah seneng banget dia, terus pengusaha satunya, kalau saya dapat apa Syaikh? Ya kamu jualan rokok juga,” cerita Cak Nun

Cak Nun melanjutkan, dua pengusaha China itu akhirnya jualan rokok. Mereka mulai mencari-cari apa nama merek rokok tersebut.

“Akhirnya, dia memilih nama rokok, Subuh, Maghrib, Isya. Dua (rakaat), tiga, empat. Dji Sam Soe,” kata Cak Nun.

Cak Nun menegaskan, Dji Sam Soe itu sebenarnya ditolong oleh Syaikhona Kholil. Maka, dia juga harus menolong para petani di Madura.

“Maka ditulis, rokok ini memakai tembakau berkualitas tinggi dengan tembakau Madura yang manis baunya, lho….,” terang Cak Nun

Dji Sam Soe, lanjut Cak Nun, 2,3,4 rekaat Subuh, Maghrib, dan Isya. Lalu, Indonesianya mana? Cak Nun bertanya.

“Indonesianya mana, masa Islam dan Madura saja? Lalu dikasih fatsal 5, Pancasila,” ungkapnya.

Cak Nun mengatakan, kalau ada orang yang tidak percaya dengan kisah ini, silahkan datang ziarah ke makam Syaikhona Kholil, tanyakan saja sendiri.

Itulah kisah Cak Nun tentang ke walian Syaikhona Kholil. Menurutnya, Indonesia itu akarnya dibangun oleh dua orang.

Syaikhona Kholil untuk bidang agama dan kebudayaan. Cokroaminoto untuk bidang kenegaraan dan politik.

“Tapi karena sejarah Indonesia tidak mengenal kebudayaan filosofi dan agama, maka yang catat dalam sejarah itu politik, ya suda tidak apa-apa,” pungkas Cak Nun.***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.