Kunjungi PBNU, Dubes Jerman Apresiasi Perempuan di Kepengurusan PBNU

  • Bagikan

Jakarta, NGAJI SANTRI

Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ina Lepel beserta dua stafnya mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta Pusat, Senin (21/3/2022). 

Dalam kunjungannya, Dubes Lepel terkesan dengan Ketua PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya lantaran berhasil membawa tokoh-tokoh perempuan masuk ke dalam kepengurusan PBNU.

“Saya sangat terkesan kepada NU apalagi setelah mengetahui bahwa dalam struktural kepemimpinannya PBNU juga banyak melibatkan tokoh perempuan,” kata Dubes Lepel.

Tokoh perempuan pertama yang menjabat Dubes Jerman ini mengaku senang banyak bertukar pikiran dengan Gus Yahya, mulai dari pemberdayaan perempuan, tradisi, hingga masalah-masalah internasional.

“Pertemuan ini menjadi sangat menarik, banyak yang kami berdua diskusikan seperti peran kepemimpinan perempuan, kebudayaan, dan sivilisasi,” terang Lepel.

Mengamini pernyataan Dubes soal tokoh-tokoh perempuan yang masuk ke dalam struktur kepemimpinannya, Gus Yahya mengungkapkan bahwa hal tersebut memang mengundang banyak perhatian publik.

“Saat ini kami (PBNU) memiliki ketua-ketua perempuan yang cukup menarik perhatian banyak orang, tentunya,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang, Jawa Tengah itu.

Gus Yahya menerangkan, adanya peran perempuan dalam kepengurusan PBNU adalah masalah waktu, pasalnya sejak awal memang tidak ada larangan melibatkan perempuan di kepengurusan PBNU.

Ia menambahkan, perempuan-perempuan yang terlibat dalam kepengurusan PBNU 2022-2027 merupakan tokoh-tokoh tangguh yang dapat dilihat dari kiprahnya selama ini. 

“Bu Khofifah Indar Parawansa yang pasti nanti kami bisa andalkan untuk mengelola berbagai agenda PBNU menyangkut pemberdayaan perempuan,” ujarnya. 

Selanjutnya, terkait masalah kemanusiaan, Gus Yahya membawa serta Alissa Qotrunnada Wahid yang selama ini juga malang melintang di berbagai forum internasional.

“Ibu Alissa ini pasti bisa kami andalkan untuk mengelola pekerjaan-pekerjaan PBNU terkait dengan nation engagement, dengan kerja sama internasional, juga terkait dengan masalah kemanusiaan yang di dalamnya masalah perempuan sangat menonjol,” imbuh kiai kelahiran 15 Februari 1966 itu.

Kemudian, menanggapi ajakan kerja sama PBNU dengan Jerman ia mengatakan bahwa dibutuhkan koordinasi dan komunikasi yang serius untuk mempermudah eksekusi ke depannya.

“Kami bersepakat bahwa perlu ada satu komunikasi yang serius antara NU dan Jerman untuk berbagai kerjasama ke depannya,” kata tokoh yang pernah menjabat sebagai juru bicara (jubir) Gus Dur itu.

Pewarta: Syifa Arrahmah

Editor: Fathoni Ahmad

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.