Komunitas Indonesia di Mesir Ladang Riset Luas

  • Bagikan

Jakarta, NU Online

Mesir, negeri yang berjuluk Qiblat AlUlum ini merupakan ladang riset yang sangat luas sekali, khususnya riset berkaitan dengan masyarakat Indonesia di Mesir. Hal tersebut diungkapkan oleh Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Ahmad Ginandjar Sya’ban.

“Mesir ini ladang risetnya yang sangat luas sekali, jangankan Mesir secara luas yah. Saya pikir terkait tentang masyarakat Indonesia di Mesir sendiri itu sejak dulu itu menjadi salah satu topik, tema, dan ladang riset yang tidak pernah kering,” ujarnya pada Kuliah Umum Riset Masisir Sesi Kedua Budaya Filologi dan Eksplorasi Manuskrip Islam Nusantara, Jumat (18/3/2022), Malam Waktu Indonesia.

Lebih lanjut, ia memberikan contoh terkait riset tentang Komunitas Mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir oleh Mona Abaza, Guru Besar Sosiologi di American University in Cairo.

“Mona Abaza itu meriset tentang bagaimana komunitas orang-orang Indonesia yang ada di Mesir pada masa pra kolonial sampai setelah masa kolonial, dan kontribusi mereka terhadap perjalanan bangsa ini. Karena yang menarik dari risetnya ini ternyata orang-orang Indonesia yang pernah belajar di Mesir itu pun peran kebangsaan yang besar,” ujar doktor kajian filologi dari Universitas Padjajaran itu.

Menurutnya, banyak orang yang ketika pulang dari Mesir yang memberikan kontribusi yang besar terhadap perjalanan kebangsaan, perjalanan kenegaraan, perjalanan pemikiran Islam di tanah air.

“Riset lain ada lagi dari Michael Laffan. Michael Laffan juga meriset tentang orang-orang Jawi, atau orang-orang yang Nusantara yang ada di Mesir sejak masa pra kolonial. Lalu tokoh-tokohnya juga disebut masa itu ada Mahmud Yunus, Tahir Jalaluddin, Fathurrahman Kafrawi, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Riset Michael Laffan juga menyebut Jam’iyah Khoiriyah Al-Jawiyah Al-Azhariyah, atau organisasi pelajar Nusantara yang ada di Al-Azhar pada tahun 1910-1920. Saat itu, Laffan banyak menyinggung beberapa kegiatan intelektual masyarakat Indonesia yang ada di Mesir.

“Nah, di antara hal yang menarik dari apa yang diulas Laffan di sini, ternyata di antara komunitas masyarakat Indonesia di Mesir yang memiliki konsen terhadap pemikiran, yang memiliki konsen terhadap tradisi keilmuan. Itu adalah kawan-kawan PCINU Mesir,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang menarik, pasalnya ketika dirinya tinggal di Mesir di tahun 2003 banyak sekali komunitas kajian, dan banyak melakukan publikasi penerbitan buletin.

“Tetapi saya pikir satu persatu itu tanggal, satu persatu itu berguguran, dan alhamdulillahnya yang masih bertahan saya perhatikan hingga sekarang Lakpesdam PCINU Mesir, ada riset center. Itu menunjukkan bahwasanya ada keistiqomahan bahwa PCINU Mesir itu menjadi semacam rumah ilmu bagi masyarakat Indonesia yang ada di Mesir sejak dulu sampai sekarang,” ujarnya.

Ia berharap bahwa lembaga riset yang dikembangkan oleh PCINU Mesir bisa mengembangkan lebih serius garapan-garapan, dan juga produk riset-risetnya.

“Kemudian apa yang telah telah diriset itu bukan semata-mata nanti menjadi konsumsi bagi kawan-kawan di Mesir. Tetapi itu bisa juga lebih bermanfaat, jadi konsumsi bagi kami yang ada di Indonesia,” pungkas alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu.

Kontributor: Malik Ibnu Zaman
Editor: Syakir NF

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.