Diduga Tak Shalat Berhari-hari, Gus Miek Dimarahi Habis Kiai Hamid Pasuruan, Ternyata Ini yang Terjadi

  • Bagikan

 Kisah dua wali besar yang sama-sama masyhur. Kiai Hamid Pasuruan dan Gus Miek Ploso Kediri. Gaya dakwahnya beda, tapi tujuannya sama. 

Semua ulama adalah pewaris Nabi. Makanya, Kiai Hamid Pasuruan dan Gus Miek sama-sama mengajarkan Islam kepada masyarakat agar kelak bisa bersama Nabi. 

Gus Miek dan Kiai Hamid sama-sama dicintai jutaan umat. Keduanya punya rahasianya masing-masing.

Sebagaimana dikutip BeritaBantul.com dari kanal Youtube Penerus Para Nabi, dikisahkan bahwa kedua wali besar, Gus Miek dan Kiai Hamid, pada awal pertemuannya terjadi goncangan besar dan luar biasa.

Goncangan itu terjadi dalam diri Kiai Hamid Pasuruan. Pasalnya, pertemuan pertama itu Gus Miek tampil dengan gaya nylenehnya, sangat tidak lazim dalam keseharian santri. 

Saat itu, Gus Miek masih berusia 9 tahun. Masih kecil, umumnya masih suka bermain dengan sesamanya. Tapi, sejak usia belia juga Gus Miek sering berkelana tanpa dinyana. 

Tiba-tiba, Gus Miek saat itu berada di pesantren yang diasuh Kiai Hamid. Dengan bijaksana, Kiai Hamid memperlakukan semua orang sesuai dengan kondisinya. Tentu, nilai dan ajaran syariat dijaga sebaik mungkin.

Beberapa hari sudah Gus Miek berada di pesantren Kiai Hamid. Tapi selama itu pula, Gus Miek tak pernah terlihat ikut shalat. Gus Miek tidur sepanjang hari.   

Ayo bangun, bangun. Jangan lupa shalat. Bangun, bangun.”

Kiai Hamid membangunkan Gus Miek dengan nada penuh marah. Gus Miek diperintah segera bangun dan menjalankan shalat.

Gus Miek akhirnya bangun. Tapi bukan untuk menjalankan shalat, malah Gus Miek membaca jalan hidup Kiai Hamid secara tuntas, mulai awal sampai akhir. Tuntas, tak terlewat sedikitpun.

Gus Miek juga menjelaskan kelebihan dan kekurangan Kiai Hamid. Semua dibaca, tuntas.  

Kontan saja, Kiai Hamid kaget luar biasa. Firasat ruhaniahnya langsung jalan. Anak kecil di depannya ternyata bukan orang biasa. 

Kiai Hamid saat itu memang belum paham siapa sosok Gus Miek. Tidak tahu bahwa Gus Miek adalah putra ulama besar, Kiai Djazuli Usman, pendiri Pesantren Al-Falah Ploso. 

Saat itu juga, Kiai Hamid menangis dan memeluk Gus Miek dengan sangat erat. Air mata tumpah tak tertahankan. Kiai Hamid sangat bahagia dengan sosok Gus Miek kecil yang dipeluknya.

Sejak saat itu juga, Gus Miek sangat disayang oleh Kiai Hamid. Semua santri dan jamaah Kiai Hamid diperintahkan agar apa pun yang dilakukan Gus Miek dibiarkan saja.

Kiai Hamid juga meminta agar para santri dan jamaah, kalau bisa, mampu melayani semua kebutuhan Gus Miek.

Kisah pertemuan pertama dua wali besar menjadi kenangan indah para santri dan jamaah, tak pernah dilupakan.*** 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.